Desa Kebon Gede, Anti Pergelaran “Wayang Kulit”

  • Sejarah Desa

Desa Kebon Gede adalah salah satu dari 17 Desa di wilayah Kecamatan Bantarbolang, dan salah satu dari 211 desa se Kabupaten Pemalang, sebagaimana definisi Desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut cerita rakyat, Kebon Gede diambil dari kata Kebun yang berarti Perkebunan, Gede berarti besar atau luas yang mana pada awal perkembangannya tersebutlah sebuah daerah yang disebut Pemalang ada seorang bangsawan dari Kadipaten Pemalang  yang melakukan pengembaraan dalam menyebarkan agama Islam, singgah disuatu tempat bermukim di sebuah hutan yang dibuka menjadi sebuah lahan pertanian/perkebunan yang mana komoditi/tanaman awalnya adalah tanaman pala pendem dan juga tanaman tembakau. Bangsawan tersebut menetap bersama keluarga dan abdi / pembantu, bukti keberadaannya dibuktikan dari beberapa makam disebuah tanah perkebunan yang mana makam tersebut disebut warga sebagai makam Syeh Panjianom, atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai makam/candi “TOGOG” atau Mbah Sumantri, dimana makam tersebut hingga kini  dikeramatkan warga masyarakat Desa Kebon Gede, warga masyarakat mempercayai bahwa di Desa kebon Gede dilarang mengadakan pertunjukan atau pergelaran “Wayang kulit”, konon pada jaman dahulu pernah ada warga yang melanggarnya sehingga pada saat pertunjukan wayang kulit tersebut berlangsung terjadilah kejadian yang sangat mengerikan, hujan deras yang disertai angin kencang, sejak itulah warga masyarakat Desa Kebon Gede tidak pernah lagi mengadakan pertunjukan wayang kulit hingga sekarang. Nama Kebon Gede itu sendiri Karena pemukiman yang di kelilngi oleh Perkebunan yang luas maka pemukiman tersebut di namakan “ KEBON GEDE “ dalam perkembangannya asal muasal penduduk Kebon Gede ada juga yang berasal dari Desa Pedagung.

Dalam masa pemerintahan Desa Kebon Gede telah mengalami masa pemerintahan 8 Kepala Desa, dan pada tahun 1960 pada masa Pemerintahan kepala Desa Bapak Sumarso Kebon Gede mengalami kemajuan hingga dapat menyabet Juara I tingkat Propinsi Lomba pengelolaan Panti Asuhan. Tahun 1965 Desa mengalami kemunduran dalam berbagai kegiatan hingga tahun 1970. Tahun 1985 pada masa Kepala Desa Bapak Tjahjono sempat meraih prestasi Juara III Tingkat Propinsi lomba kesenian Boloboso hingga sempat mewakili Kabupaten Pemalang pentas seni di TMII Jakarta tahun 1986.

Desa Kebon Gede, dari jaman penjajahan Belanda sampai dengan sekarang sudah melalui 12 kali periode jabatan lurah, 3 diantaranya yang sampai sekarang belum diketahui tahun menjabatnya.

Berikut kami sajikan tabel daftar Lurah Desa Kebon Gede :

No Periode Jabatan Nama Lurah
1.   Ndriya
2.   Surya Brantas
3.   Taryaman
4. 1959 – 1966 Sumarso
5. 1967 – 1975 Rajat
6. 1976 – 1981 Wahyudi
7. 1982 – 1986 Cahyono
8. 1987 – 1988 Subiyanto
9. 1989 – 1997 Solichin
10. 1998 – 2006 Cahyono
11. 2007 – 2012 Siswanto
12. 2013 – Sekarang Siswanto
  • Demografi
  1. Batas Wilayah Desa

Letak geografi Desa  Kebon Gede , terletak diantara :

  1. Sebelah Utara : Desa Peguyangan
  2. Sebelah selatan : Desa  Bantarbolang
  3. Sebelah Barat : Desa  Kuta
  4. Sebelah Timur : Desa  Sarwodadi
  5. Luas Wilayah Desa
  6. Pemukiman : 124 ha
  7. Pertanian Sawah : 80 ha
  8. Ladang/tegalan : 132 ha
  9. Hutan : 467,99 ha
  10. Rawa-rawa : 0 ha
  11. Perkantoran : 0,15 ha
  12. Sekolah : 0,28 ha
  13. Jalan                                         :    5, 6      ha
  14. Lapangan sepak bola             :    0,84     ha
  1. Orbitasi

Jarak ke ibu kota kecamatan terdekat :   2   KM

Lama jarak tempuh ke ibu kota kecamatan :  10  Menit

Jarak ke ibu kota kabupetan  : 13   KM

Lama jarak tempuh ke ibu kota Kabupaten :  45  Menit

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*